BAB I: Dunia Bebas: Antara Dunia Nyata dan Maya

Judul ini merupakan adaptasi dari kartun karya Peter Steiner yang pernah dimuat di The New Yorker, “On The Internet, Nobody Knows You’re a Dog”.
The Conscience of a Hacker — The Mentor (1986)
The following was written shortly after my arrest…
//\The Conscience of a Hacker//
by
+++The Mentor+++
Written on January 8, 1986
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Another one got caught today, it’s all over the papers. “Teenager
Arrested in Computer Crime Scandal”, “Hacker Arrested after Bank Tampering”…
Damn kids. They’re all alike.
But did you, in your three-piece psychology and 1950’s technobrain,
ever take a look behind the eyes of the hacker? Did you ever wonder what
made him tick, what forces shaped him, what may have molded him?
I am a hacker, enter my world…
...
You may stop this individual,
but you can’t stop us all… after all, we’re all alike.
+++The Mentor+++Wow, sungguh sebuah manifesto mengagumkan. Membacanya membuatku lebih merinding daripada menyimak teks proklamasi kemerdekaan atau Pembukaan UUD 45. Bahkan lebih menggejolak ketimbang mendengar Nikka Costa melantunkan First Love di zaman SMP dulu. Seperti sebuah representasi, perwakilan dari apa yang selama ini ingin keluar dari isi kepala dan hati tapi tak tahu bagaimana mengungkapnya. Ibarat pernyataan cinta dari seorang lelaki yang sudah lama kutunggu. Yes, I am a criminal. My crime is that of curiosity. My crime is that of judging people by what they say and think, not what they look like. My crime is that of outsmarting you, something that you will never forgive me for. Simak betapa dahsyatnya kalimat-kalimat itu. Selama ini orang selalu menilai dari apa yang mereka lihat, bukan mereka katakan dan pikirkan. Itulah yang kubenci. Apa salahnya dengan menilai orang secara sebaliknya? Itulah yang selalu kulakukan, berharap orang lain juga melakukannya di dunia nyata. Tapi tak pernah kudapat. Di dunia maya lah semua berlaku sebaliknya. Tak peduli seperti apa fisikmu, warna kulitmu, agamamu, rasmu. Kau adalah manusia di balik keyboard yang mengetikkan kata demi kata yang merepresentasikan pikiranmu. We exist without skin color, without nationality, without religious bias… and you call us criminals. You build atomic bombs, you wage wars, you murder, cheat, and lie to us and try to make us believe it’s for our own good, yet we’re the criminals. Mengapa semua itu harus dituduh sebagai sebuah kejahatan? Bukankah pemikiran rasialis materialis lah yang justru serangkaian kriminalitas sepanjang sejarah umat manusia di muka bumi? Oh God, I really like these ideas! Siapa itu The Mentor? Ia bahkan sudah membuat manifesto itu tahun 1986! Tahun itu aku masih sibuk bermain layang-layang atau membaca majalah Bobo. Bahkan tak pernah bermimpi akan ada temuan bernama komputer atau Internet. Biarkan aku bergabung dengan The Mentor dan teman-temannya! Aku benci dunia nyata yang menjijikan ini. Betul kata Susan, manfaatkanlah Internet. Tapi pemikiranku beda dengan satu-satunya sahabatku di dunia nyata itu. Ia boleh saja memakai Internet sebagai jalan mendapatkan koneksi ke luar negeri untuk memperbaiki nasib. Tidak, sama sekali berbeda. Tidak akan pernah kumanfaatkan dunia maya tercinta ini untuk lari ke belahan dunia nyata lainnya. Justru aku ingin melebur ke dalamnya. Menyatu. Sampai tak perlu lagi berurusan dengan dunia nyata. Selamanya. Thanks, Susan. Kamu sudah memperkenalkan aku dengan dunia ini! Yeah, this is my world!
Tidak ada yang lebih membuatku semangat daripada berangkat ke kantor. Kini aku berangkat satu jam lebih awal. Maka saat menginjakkan kaki ke kantor, yang kujumpa hanya petugas cleaning service yang masih sibuk bersih-bersih atau office boy yang memunguti gelas kotor. Kutekan tombol “Power” pada CPU. Monitor kunyalakan. Internet di sini terkoneksi 24 jam non stop dengan ADSL. Yahoo Messenger secara otomatis langsung aktiv. Ada alert 4 email baru di Inbox. Tiga email dari milis Kutukutubuku, satu dari Cecurut. Menarik. Kuklik email Cecurut bersubject “Joint us at mIRC”. Isinya ajakan untuk ikut masuk dalam chat room mIRC. Aku jadi tersenyum sendiri ingat Susan yang mengajariku pertamakali chatting di mIRC. Bedanya kali ini channel yang dipakai adalah #CurutHack. Kubuka situs https://www.mirc.com, lantas menginstalnya ke PC. Proses berjalan cepat, kemudian muncul aikon mIRC yang khas itu di layar monitor.
Dengan lincah jariku menari di atas keyboard dan mouse. Ketikan nickname, email palsu, nickname alternativ, lalu pilih server Dalnet. Dan klik panel “Connect to Server”. Masuklah aku ke channel #CurutHack. “Welcome 2 this room. This channel operated by bot. This is a restricted area. Don’t invite anybody you don’t know well, ‘cuz we don’t like spy.” Hmm, sambutan yang lumayan menarik. Menandakan chatter di sini memang orang-orang pilihan. Ada setidaknya 200-an nickname di channel itu. Aku pakai nama Angel^-^ sebab tak ada ide untuk pakai nama lain. Percakapan di channel lumayan meriah.
Hi 2, Angel. Fine here.
Hi juga Angelx. Baru gabung ya?
Yup. Siapa ya yg invite aku ke sini?
Bot lah pasti. Semua miliser baru pasti otomatis diajak ke sini.
Just wanna know, r u all hackers?
hehehe
????
Tak ada jawaban. Kemudian di taskbar sebelah kiri ada nickname merah berkedip. Seseorang mengirim PV.
hi
hi juga, asl pls
24 m jkt, u
23 f jkt
what u know about hacker, Angelx?
not much.Just read the manisfesto.That’s great.
apa yang kamu dengar orang bilang tentang hacker?
hmm…yg jelek2 pastinya.Tukang acak program PC.Bobol jaringan.Kind like that…
u trust them?
not really.semua tindakan pasti ada alasan.
nice answer! Like it!
ups, sorry sandman, saya di kantor sekarang, Ngga berasa udah jam 8. Mulai rame kantor.
kamu kerja?di bagian apa?
RND staf
cool.ngga banyak orang seberuntung kamu!
kamu gimana?kerja?kuliah?
ngga dua2nya.
justru enak.Ngga kerja, ngga kuliah, bisa tetap dapet akses net
hehe
who invite me 2 the milis ya?
dunno.mereka invite siapa aja yg aktiv di banyak milis.mungkin salah 1 temenmu.
temenku di net lebih banyak daripada di real world.
really?why?
orang di net lebih asik daripada di real world.
kenapa bisa gitu?
entah.aku juga heran.Kantor benar-benar mulai ramai. Atasanku berjalan ke arah mejaku. Hatiku berdebar kencang. Layar mIRC sudah di-minimize, tetap saja aku takut ia tahu apa yang kulakukan. “Mana kerjaan kemarin?” Tangannya menjulur ke wajahku. My God! Data CITES itu belum ku-print out! Cepat kubuka disk C, kucari di folder kemarin. Thanks God data file itu aman di sana. “Njelana, kamu sudah kerjakan tugas kemarin?” “Su..sudah bu, hanya belum di-print out.Sebentar saya print,” aku bergegas ke printer di ujung ruangan. Hatiku berdegup kencang, takut perempuan gendut itu melihat layar monitorku. Aku bekerja seperti orang gila. Printer itu bekerja lama sekali. Tidak, atasanku mengamati meja kerjaku, lalu tangannya seperti sibuk melakukan sesuatu. Aku seperti membeku di depan printer yang jaraknya sekitar 10 meter dari komputerku. Cepatlah ia pergi dari sana, biar kuantar data itu nanti ke ruangannya, begitu batinku. Kertas hasil print mulai keluar satu demi satu. Atasanku tak jua beranjak dari sana. Kini kepalanya melongok ke layar komputer! Apa dia membuka program mIRC?Membaca pesan Sandman2500? Aku akan segera dimarahi! Yeah, dia menuju kemari! Dengan mata membelalak seperti beruang lapar melihat mangsa. Aku hanya rusa kurus kecil tak berdaya di depan mesin printer sialan ini. “Kalau sudah, segera antar ke ruangan saya!” Suaranya menggelegar bagai petir menyambar. Syukurlah ia tak menyebut tentang mIRC. Baru aku bisa bernapas lega. Aku berlari ke mejaku. Kulihat nama Sandman mengedip-ngedip merah. r u there? sorry berat, tadi bosku kemari.aku harus mem-print out kerjaan dulu. BRB!
mIRC dan Milis CecurutHack
Sejak kembali aktif di chat room mIRC, pekerjaanku banyak yang tertunda. Mencari data kulakukan sekaligus dengan chatting di mIRC, Yahoo Messenger, membuka milis, email, browsing, mengangkat telepon, menyusun statisik, dengar musik. Jam makan siang semuanya tetap kulakukan, hanya dengan tambahan aktivitas menyendokkan maanan ke mulut. Betapa mengasyikan berteman dengan mereka para Cecurut ini. Aku juga sudah mejadi bagian dari mereka. Pelan-pelan aku jadi tahu apa itu hacker, Open Source, Free Software, dan sejenisnya. Beberaa mencoba mengajariku bagaimana menembus jaringan komputer, membobol email dan server. Sayang aku tak punya waktu luang untuk mencobanya.
Etika Hacker dan Informasi Bebas
Yang menarik dari kaum Cecurut adalah prinsip mereka yang menyatakan bahwa semua informasi harus bisa didapat gratis oleh siapa saja. Ini adalah bagian dari kode etik hacker yang disarikan dari buku “Hackers: Heroes of The Computer Revolution” karya Steven Levy terbitan tahun 1984. Aku juga sangat setuju pada prinsip bahwa akses ke sebuah sistem komputer, dan apap saja yang dapat mengajarkan mengenai bagaimana dunia bekerja, haruslah tidak terbatas sama sekali. Tidakkah ini memang keadilan bagi semua orang? Terlebih pada aku yang memang bekerja mencari data dan informasi? Bisa dibayangkan betapa menyebalkan kalau kita harus terbentur pada prosedur formal saat memerlukan sejumlah data penting untuk keperluan referensi jurnalistik. Tidak cukup hanya mengangkat telepon, berbasa-basi. Sering aku harus dioper dari satu nomor telepon ke nomor lain, kemudian diberi nomor faksimili, diharuskan menulis surat proporsal kepada Tuan Anu, baru kemudian menunggu jawaban, mengangkat telepon lagi dan menunggu lagi. Luar biasa peliknya proses yang harus kulakukan demi mendapat kadang selembar data saja dari suatu instansi. Padahal, siapa sih yang mau memanfaatkan data remeh seperti itu untuk tujuan negatif? Seperti data statistik peserta vaksinasi cacar per wilayah di Indonesia. Amit-amit susahnya untuk diminta. Kalau dipikir, apa sih vitalnya data seperti itu? Memangnya keamanan negara akan terancam kalau data sialan tadi tersebar ke publik? ambil saja data yang kita butuhkan tanpa minta izin bukankah itu namanya mencuri? mencuri adalah kalau data mereka jadi hilang karena kita ambil. Ini tidak. Kita hanya men-copy saja. Tak ada yang dirugikan. hmmm betul juga. Masalahnya, ngga semua data instansi di Indonesia ini tersimpan di komputer. Lebih banyak di dokumen cetak. tidak semua. Ada yang sudah terkomputerisasi. Betul, semua data dan informasi memang harusnya tidak dibatasi. Kalau kita berhasil membobolnya lalu men-copy-nya, maka itu bukan pencurian. Tak ada yang dirugikan. Apalagi kalau teknik yang dipakai untuk menerobosnya sama sekali tak merusak program apapun. Lalu, mengapa hacker sering dikambinghitamkan sebagai pelaku aneka kejahatan di komputer? Padahal Richard Mansfield dalam tulisannya di Hacker Attack,definisi hacker adalah orang yang memiliki keinginan untuk melakukan eksplorasi dan penetrasi terhadap sebuah sistem operasi dan kode komputer pengaman lainnya, tetapi tidak melakukan tindakan pengrusakan apapun, tidak mencuri uang atau informasi. Jadi tak ada salahnya kalau kami menerobos suatu sistem keamanan, melihat sebentar apa yang ada di dalamnya, kemudian keluar lagi. Tidak, aku tidak akan mencuri apapun.
Stallman dan GNU
Kian banyak kusimak mengenai kaum yang menamakan dirinya sebagai The Undergrounder ini, kian muncul rasa salut. Salah satu nama yang kusaluti tiada habis adalah Richard Matthew Stallman alias RMS. Lelaki kelahiran 16 Maret 1953 itulah yang pertamakali merintis ide gerakan free software yang diberi nama GNU Project. RMS menggalakkan kampanye politik penggunaan software bebas biaya lisensi. Ia juga yang menulis Hacker’s Dictionary yang sayang tidak kutemui di toko-toko buku di Jakarta. Dari semua tulisan di situs-situs luar kutangkap bahwa hacker sangat berbeda definisinya dengan yang ada di berita. Hacker sepengertianku adalah orang-orang yang terus mengembangkan program komputer tiada henti berdasar prinsip “portable software”. Yang terakhir ini adalah ide dari Stallman juga untuk mencipakan software yang bisa dipakai pada beragam jenis komputer. Orang yang terus memperbarui dan memodifikasi program, mengeksploitasi sistem keamanan, mengujicobanya, itulah yang mereka sebut hacker. Kalapun ada kasus kriminal seperti carding, merusak sistem dan mencuri data, maka itu hanya sebagian kalangan hacker yang berkarakter negatif. Uniknya, tiap kali ditanya mereka tidak pernah mau mengaku dirinya sebagai hacker. Lebih suka dibilang sebagai “computer freak”, “nerd” atau “programmer” saja. bukan. Saya cuma suka ngoprek kompi aja.” pengen sekali dibilang hacker. Tapi sebutan itu cuma pantes buat Torvalds, Stallman dan barisannya. Kami sih cuma cecurut. Gates sebenernya juga hacker, hanya dia sudah komersil, jadi borjuis. Hacker borjuis, hahaha!
Revolusi Digital
Lama sekali aku tak dengar istilah borjuis disebutkan. Kapan ya pernah kudengar seseorang menyebutkannya? Sangkakala. Ya, dia kerap sekali mengutarakan istilah-istilah seperti borjuis, kapitalis, sosialis dan revolusi. Di dunia maya revolusi itu tak pernah terjadi. Namun di sini, di Internet, pelan-pelan revolusi berlangsung, tidak kenal batas negara. Inilah revolusi digital, dengan tujuan menumbangkan dominasi keangkuhan birokrat, kapitalis seperti Gates, dan karakter manusia yang paling kubenci, yakni menilai segala sesuatu dari tingkat jabatan, kondisi fisik dan fashion. Revolusi di dunia nyata memang sangat sulit karena terlalu banyak yang harus ditumbangkan. Belum lagi militer bersenjata, kekuatan politik dengan pendukung massa yang gelap mata. Diperkuat lagi dengan aturan hukum yang bisa dengan mudah menjerat siapa saja. Pengkotak-kotakan dunia atas nama negara memang seolah sengaja dibuat untuk mengukuhkan kedudukan raja-raja kecil di tiap wilayah. Inilah yang tak ada di dunia maya. Tak ada hukum, polisi, militer, raja, massa yang marah, atau senjata. Di sini setiap manusia hanya diwakili oleh nickname, alamat email, foto diri yang bisa dimanipulasi seenak perut, dan tentu saja kepiawaian teknis dan komunikasi. Begitu kau masuk ke dalamnya, berbaur dalam komunitas ini, maka kau ada. Kau diakui. Tak peduli ras, agama, jabatan, kekayaan materi, juga apakah gaya berpakaianmu cukup fashionable atau ketinggalan zaman. Yang membuatmu diakui di sini bukan itu semua, melainkan seberapa mahir kau berkomunikasi, membagikan informasi. Bagi mereka yang memang “computer freak”, jago membuat program , mengoprek PC, itu lebih mudah lagi. Aku belum sehebat itu. Jadi modalku hanya rasa keingintahuan. Milis CecurutHack itu lebih banyak berisi posting tentang pertanyaan teknis seperti bagaimana menginstall Red Hat, meng-up grade program lama dan sejenisnya. Aku benar-benar buta pada itu semua sampai ketika suatu saat seorang teman menjelaskan. Pada dasarnya milis ini merupakan forum bagaimana para programmer, ahli keamanan jaringan serta para pengoprek komputer lainnya saling berbagi pengetahuan, pengalaman, juga ide-ide cemerlang. Seperti saat Croc0dilluz menemukan cara paling aman mengeset Firewall versi baru yang dikembangkannya, Juga bagaimana menemukan kembali password email yang dicuri orang. Ada juga kenakalan seperti bagaimana membuat nomor Internet Protocol (IP) tak bisa terlacak saat chat di mIRC, mengakali teman chat, dan sejenisnya. Perlahan aku jadi tahu sedikit tentang apa itu SQL Injection, mencari vulner dalam sebuah website, pokok-pokok deface alias mengganti tampilan website. Semuanya berjalan begitu saja. Tanpa perlu formalitas rumit, merogoh kocek, semuanya serba gratis. Informasi dan ilmu itu mengalir, merangsek ke dalam otak juga benak. Memang menurut para penganut aliran teknorealis, Internet tidak bisa disamakan dengan bangku sekolah. Segala informasi yang bisa kita reguk dari dunia maya tak bisa disamakan dengan pendidikan formal. Tetap saja orang butuh sekolah, sebab sekolah itu sendiri bukan semata arus ilmu serta informasi yang mengalir deras. Ada juga golongan yang agak antiteknologi, selalu menuding hal-hal buruk mengenai kebebasan informasi. Internet dituding sebagai media yang hanya memperlancar arus pornografi, terorisme, pembunuhan karakter, fitnah, banyak lagi. Belum lagi kasus cybercrime yang banyak menyalahkan para pengoprek program komputer. Bagiku, Internet adalah dunia sarat informasi, pengetahuan, data, teman-teman baik hati yang sudi membagi ilmu tanpa pamrih. Hobiku membaca buku pun bisa tersalurkan di dunia indah ini. Banyak literature yang bisa dibaca tanpa mengeluarkan sepeser rupiahpun. Informasi ini juga kudapat dari teman dunia maya.
Literatur Gratis dan Proyek Gutenberg
Kamu suka baca?
Suka banget!
Banyak buku yang bisa di-download gratis di net.
Really? Dimana aja?
Check it out. https://www.underground-book.com dan https://www.rheingold.com .Hope u like it
Mulanya aku tak percaya ada orang yang mengiklaskan tulisannya dibaca cuma-Cuma. Bukan tulisan asal jadi, melainkan buku-buku yang juga dicetak, diterbitkan, dijual secara komersil. Mereka membuat versi elektroniknya, bisa diakses bebas oleh siapa saja, di-download, digandakan, diprint-out, dibaca begitu saja. Bahkan siapa tahu buku itu digandakan besar-besaran lalu dijual kembali di luar sana? Tapi si penulis murah hati itu sungguh tak peduli. Sungguh konsep copyleft yang luar biasa.
Suellete Dreyvus, penulis Underground tidak menulis buku tersebut hanya berdasarkan khayalan belaka. Ia membutuhkan waktu tiga tahun untuk riset, menulis dan mengedit buku yang nyaris setebal 500 halaman itu. Namun ia dengan sedemikian murah hati mengizinkan siapa saja membacanya dengan gratis di Internet. Apa pasal? “Bagian kegembiraan dari menciptakan seni adalah agar bisa dinikmati banyak orang. Tidak semua orang bisa mengeluarkan uang 11 dolar AS untuk membeli sebuah buku. Tidak terkecuali para hacker. Buku ini tentang mereka, hidup mereka, dan obsesinya. Undergound ini milik dunia maya,” begitulah Dreyvus berargumen mengapa ia mengratiskan saja buku yang dibuatnya dengan susah payah itu. Ia bahkan mengaku cukup bangga ketika seorang teman berkisah melihat ada pemuda yang membaca buku Underground dalam versi print-out kasar dari komputer di atas bis. Itu menandakan bahwa buku Dreyvus memang diminati banyak orang kendati orang itu tak harus membelinya. Ia juga merelakan saja kalau tulisannya itu digandakan, dicetak dan dikirim atau bahkan dijual ke orang lain. Dreyvus juga tak peduli dikritik dan disebut subversif.
Menghadirkan buku-buku konvensional dalam bentuk data elektronik merupakan misi dari sebuah proyek bernama Proyek Guttenburg. Di sini mereka meng-elektronik-kan banyak sekali buku yang selama ini dijual komersil di dunia nyata. Proyek Guttenburg memungkinkan orang yang suka membaca tak harus merogoh kocek untuk membeli buku bermutu. Tentu saja ini sebuah pencerahan bagi kutu buku maniak seperti aku. Tahu sendiri kan, di Indonesia harga buku masih bisa dikatakan relatif mahal. Apalagi buku-buku impor. Bisa bangkrut dalam sekejap kalau aku harus membeli semuanya. Sayang, tidak semua buku yang bagus sudah bergabung dengan Proyek Guttenburg.
Beda dengan kebanyakan buku tentang teknologi informasi yang berdedar di toko-toko buku Indonesia, buku karya penulis luar jauh lebih komunikatif dan beragam temanya. Buku teknologi di Indonesia mayoritas adalah model buku “how to” yang sarat dengan petunjuk teknis seperti bagaimana mengaplikasi jaringan Warnet, membangun jaringan komputer kantor, cara membuat website dan sejenisnya. Buku seperti karya Dreyvus tadi lebih menyoroti interaksi manusia dengan teknologi dalam hidup sehari-hari.
Dear Angel,
Benar memang kalau buku-buku IT kita lebih teknis sifatnya. Ini disebabkan masyarakat kita memang masih dalam taraf pembelajaran teknis. Jadi jangan salahkan kalau lebih banyak buku jenis “how to” di luar sana. Kelak suatu saat akan lahir buku-buku seperti yang kamu maksud.
Cheers,
Morph3us.Mungkin memang begitu kenyataannya, Morp.
Mimpi tentang Sangkakala
Pernahkah kau mengalami semacam penglihatan ke masa depan? Percaya atau tidak, itulah yang tak sengaja kualami. Malam setelah pikiranku berkecamuk dengan revolusi di dunia maya dan nyata, aku mengalami mimpi aneh. Sangkakala datang menemuiku di mimpi itu. Sosok yang sudah lama tak kujumpa. Sosok yang isi kepala dan pemikirannya lebih melekat di hatiku ketimbang keindahan fisiknya. Sosok yang datang pergi sesuka hati. Aku sedang berdiri di tengah gurun pasir, diterpa kehausan luar biasa. Dari jauh kulihat oase menunggu minta diteguk. Berlari kumenuju ke sana. Di situlah kujumpai cowok dengan kaus bergambar Che Guevara. Kepalanya diikat dengan kain putih bertuliskan REVOLUSI warna merah. Sangkakala. Ia tersenyum. Tapi bisa jelas kulihat di tangannya yang terkepal ke belakang memegang pisau. Dan pisau itu dihunuskan padaku. Mimpi aneh. Wajah cowok itu tak jelas betul, namun aku yakin ia Sangkakala.
Pertemuan dengan Sangkakala
Esoknya, dalam perjalanan pulang ke rumah saat menunggu bus di halte, muncullah ia. Seperti sebuah fantasi, cerita di novel picisan atau komik lucu saja. Malamnya bermimpi, esoknya bertemu. Hanya di dunia nyata Sangkakala tidak mengenakan kaus Che. Tanpa ikat kepala pula. Ia berkemeja biru tua rapi dengan celana kain hitam. Rambutnya juga rapi. Di bahu tergantung ransel. Tipikal karyawan kantoran yang masih mau tampil ala mahasiswa. Aku sama sekali tak menyangka ia adalah Sangkakala. Sampai kemudian ia menghampiriku dengan tatapan berkerut, menambah matanya yang memang sudah menjorok ke dalam kian lenyap saja. “Njel?” Ia menyebut namaku ragu-ragu. Aku terhenyak dari lamunan. Siapa memanggilku di tengah kerumunan penunggu bis? Aneh ada orang yang mengenalku. “Njel, anak sastra angkatan 1997, kampus Depok?” Kembali ia memastikan identitasku. Oh, bagaimana mungkin aku melupakan cowok satu ini? Satu-satunya cowok yang pernah kumimpikan seumur hidupku! “Sangkakala!” Aku terpekik pelan tak percaya. Kami berdua pun tertawa bersama. “Ngga salah lagi! Cuma kamu yang manggil aku pakai nama itu!” Ia menunjuk wajahku. Hati ini girang bukan kepalang. Ia ingat namaku! Ia bahkan ingat kebiasaanku! Ia yang popular, banyak teman, digandrungi cewek sekampus, aktivis terkenal. Bagiku ini seperti kehormatan. Luar biasa. Aku tak mampu berkata-kata lagi. “Kamu kerja, Njel? Dimana? Dekat sini?” Ia memberondongku. Aku hanya tersenyum mengangguk-angguk seperti petani miskin berpakaian compang-comping yang disapa presiden. Terbisu dikunci kebahagiaan tak terkira. “Kerja dimana?” Kurasakan tangannya sedikit mengguncang bahuku. Barangkali ia gemas, kesal karena aku tak jua menjawab pertanyaan. Kubernarkan kacamataku yang melorot ke bawah hidung. “Di situ,” kutunjuk gedung besar di seberang sana. “Wow, di situ? Di lantai berapa? Bagian apa?” “Lantai 5, staf litbang,” kujawab cepat. “Hebat, hebat, “ Sangkakala menepuk-nepuk pundakku seperti seorang guru memuji muridnya. Aku masih terpaku tak percaya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami. Sangkakala seperti berteriak ke arahnya. “Sorry Njel, jemputan datang. Besok-besok ketemu lagi ya!” Ia pun bergegas meninggalkanku. Masuk ditelan mobil tadi. Pergi. Hilang begitu saja. Senyumku pelan-pelan memudar menjadi lamunan. Begitu cepat pertemuan itu lalu berpisah begitu saja. Lantas apa arti mimpiku semalam? Pisau itu? Ikat kepala REVOLUSI itu? Tak ada. Mungkin hanya karena aku selalu terpaku pada satu laki-laki. Sangkakala. Sejak itulah setiap hari aku celingukan di tempat pertemuan tak sengaja dengan lelaki itu. Mirip maling jemuran yang memeriksa apakah ada pakaian yang layak dicuri. Kadang aku berlama-lama di pinggir trotar itu, berpanas-panas di pagi hari sewaktu baru datang. Sorenya kembali menengok kiri kanan mirip jerapah mencari dahan untuk dimakan. Malamnya selalu saja sulit pejamkan mata mengkhayalkan sosok Sangkakala-ku. Sungguh kebodohan tiada tara.
Surat dari Susan
Dear Angel,
Gue kasihan banget sama elu. Tapi akan gue usahakan cari info tentang cowok itu. Kebetulan gue ikut milis alumni kampus. Elu sih dari dulu gue ajak ikut ngga pernah mau. Sekarang, giliran ada masalah begini, gue juga yang elu repotin. Tapi gue jadi bingung, mesti nanya gimana sama anak-anak milis tentang dia? Dari dulu kan gue memang ngga pernah akrab sama dia. Kayaknya kenal juga ngga deh. Gue tau dia ari elu sama beberapa bulletin kampus tempat dia biiasa nulis atau jadi tokoh berita.
Kabar gue di sini asik-asik aja. Mark cinta mati sama gue. Di sini gue iseng kursus bahasa Jerman sambil jadi tukang edit naskah Karl, temen Mark yang nerjemahin buku-buku penulis Jerman ke bahasa Inggris. Gile, bahasa Inggrisnya kacau balau Njel. Masih mendingan gue kemana-mana.
Gue seneng lu udah mulai banyak temen di net. Saran gue sih lu ikutin jejak gue. Kan enak kalo lu bisa memperbaiki nasib dengan dapet cowok bule. Sekere-kerenya mereka, masih lebih baik ketimbang cowok Indonesia. Udah dulu Njel, gue harus kursus dulu ya. Gue doain lu ketemu cowok oke. Biar lu bisa ngelupain Sangkakalalalalala yang ngga jelas itu.
Okay, good luck, sista!
Kiss and hug,
Suzan
Komentar